Saat ini, masih banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, hasil akhir yang diperoleh oleh peserta didik belum sepenuhnya mampu memberikan senyuman manis yang membuat harum nama bangsa Indonesia, kualitas belajar mengajar patut dipertanyakan dan motivasi belajar peserta didik masih sangat rendah.
Permasalahan ini harus diperbaiki untuk hasil yang lebih baik dalam proses belajar mengajar. Adapun proses belajar merupakan aktivitas belajar aktif dalam merangkai pengalaman, menggunakan masalah nyata yang terdapat di lingkungannya. Belajar tidaklah bersifat pasif, belajar merupakan proses aktif dalam memperoleh pengalaman pengetahuan dan informasi baru. Setelah belajar seseorang memiliki keterampilan, kemampuan, sikap, dan nilai.
Adanya Kegiatan Belajar Mengajar tak lepas dari seorang guru/pendidik, Guru berperan sebagai pengelola pembelajaran, bertindak selaku fasilitator yang berusaha menciptakan pembelajaran yang efektif, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik dan meningkatkan kemampuan peserta didik untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, pengelolaan kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar.
Guru yang mampu melaksanakan perannya sesuai dengan yang disebutkan di atas disebut sebagai seorang guru yang berkompetensi. Menurut Mulyasa (2007: 190-192) dalam jurnal PENTINGNYA KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PROSES PEMBELARAN DI SEKOLAH DASAR mengidentifikasi kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yakni kemampuan dasar (kepribadian), kemampuan umum (kemampuan mengajar), dan kemampuan khusus (pengembangan keterampilan mengajar).
Dalam bidang pendidikan, khususnya yang diperuntukkan untuk guru, Kompetensi pedagogik adalah keterampilan atau kemampuan yang harus dikuasai seorang guru dalam melihat karakteristik siswa dari berbagai aspek kehidupan, baik itu moral, emosional, maupun intelektualnya. Dalam kompetensi pedagogik guru dituntut untuk dapat memahami peserta didiknya serta memahami bagaimana memberikan pengajaran yang benar pada peserta didik.
Pengaplikasian dari kemampuan ini tentunya dapat terlihat dari kemampuan guru dalam menguasai prinsip-prinsip belajar, mulai dari teori belajarnya hingga penguasaan bahan ajar. Kompetensi pedagogik yang harus dikuasai guru meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktulisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Pada prosesnya, mungkin masih sulit, dikarena keberagaman karakter yang dimiliki setiap murid/peserta didik. Dari sinilah ketika kompetensi pedagogik yang sudah disusun belum berhasil guru tidak perlu terlalu kecewa, karena paham atau tidaknya siswa, itu diluar kendali seorang pendidik.
Disini penulis ingin mengenalkan sebuah filsafat stoik/stoikisme yang mungkin bisa membantu mengurangi rasa kecewa ketika menghadapi murid.
Apa itu stoikisme?
Stoikisme adalah sebuah filsafat Yunani Kuno yang mengajarkan tentang bagaimana agar tetap dalam kehidupan yang dinamis. Filsafat kuno ini dianut oleh beberapa filsuf Yunani, seperti Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius.
Sederhananya filsafat satu ini mengajarkan bagaimana kebahagiaan bisa didapatkan apabila memfokuskan diri pada apa yang dapat dikendalikan, Hidup ini terdiri dari dua hal, sesuatu yang di bawah kendali kita dan hal-hal yang di luar kendali diri kita. Contohnya adalah kebahagiaan, dalam hal ini ketika kita sudah berhasil menerapkan sebuah model pembalajaran semestinya kita bahagia dan seharusnya kebahagiaan letaknya berada dalam kendali kita. Apabila ada hal yang memengaruhi kebahagiaan yang berasal dari luar kendali, maka yang perlu dilakukan adalah mengendalikan hal tersebut sesuai dengan apa yang kita bisa.
Misalnya adalah ketika kita kecewa terhadap perilaku peserta didik kepada kita karena tingkah laku serta pemahaman yang minim yang diperolehnya dan membuat diri ini kesal atau marah, yang perlu dilakukan agar kita tetap bahagia dan menjadi pribadi yang positif adalah mengendalikan apa yang dapat dikendalikan dari diri sendiri. Oleh karena itu, mengelola pikiran adalah kuncinya.
Perlu
perhatikan bahwa dunia ini tidak hanya mengitari diri kita sendiri.
Jatuh-bangun, menang-gagal, sedih-senang merupakan hal yang biasa dalam proses
hidup baik dibidang sosial, ekonomi bahkan dalam dunia pendidikan. Namun,
kebahagiaan tergantung pada bagaimana diri kita memilih untuk bahagia atau
tidak.
.