Istilah tut wuri
handayani merupakan gagasan yang mula-mula dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara
seorang perintis kemerdekaan dan bapak pendidikan nasional. Asas Tut Wuri Handayani yang dikumandangkan oleh
Ki Hajar tersebut mendapat tanggapan positif dari Drs. RMP Sosrokartono (filsuf
dan ahli bahasa) dengan menambahkan dua semboyan untuk melengkapinya, yakni Ing
Ngarso Sung Tulada dan Ing Madya Mangun Karsa. Kini ketiga semboyan tersebut
telah menyatu menjadi satu kesatuan asas.Adapun penggalan dari istilah
tersebut yang kini menjadi semboyan pendidikan di Indonesia yakni:
Ing
Ngarso Sun Tuladha (jika di depan memberi contoh.) Secara normatif seorang
pemimpin (pendidik) diharapkan mampu menjadi teladan yang baik (contoh yang
baik) bagi anak buah atau anak didiknya. Hal ini sangat penting jika
pemimpinnya melakukan kesalahan, jangan salahkan jika pengikutnya juga
melakuakan hal yang sama. Misalnya, jika pejabat tinggi melakukan korupsi, hal
ini akan ditiru oleh bawahan yang di daerah-daerah. Atau jika seorang pendidik
membentak-bentak anak didiknya, dengan sendirinya akan membawa pengaruh mental
si anak didik terganggu seperti ketakutan dan bahkan tidak mau masuk sekolah
lagi.
Ing
Madya Mangun Kurso(di tengah membangkitkan kehendak) diterapkan dalam situasi
ketika anak didik kurang bergairah atau ragu-ragu untuk mengambil keputusan
atau tindakan, sehingga perlu diupayakan untuk memperkuat motivasi.,
Tut
Wuri Handayani(jika di belakang memberi dorongan) dalam dunia pendidikan,
kepala sekolah dapat memediatori secara baik kepada staf, karyawan atau guru
untuk memberi pelayanan secara maksimal kepada anak didiknya. Untuk pendidik
sendiri, dapat memberikan kebebasan pada anak didiknya untuk melakukan kegiatan
dalam praktik pembelajaran tentu sesuai dengan langkah-langkah kerja yang telah
ditetapkan agar tujuan praktik pembelajaran dapat berjalana dengan baik dan
mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan harapan. Pendidik hanya bertugas
mengawasi dan mengarahkan peserta didik apabila ada anak didiknya yang berlaku
diluar jalur yang telah ditetapkan.Tut Wuri Handayani mengandung arti pendidik
dengan kewibawaan yang dimiliki mengikuti dari belakang dan memberi pengaruh,
tidak menarik-narik dari depan, membiarkan anak mencari jalan sendiri, dan bila
anak melakukan kesalahan baru pendidik membantunya. Gagasan tersebut
dikembangkan Ki Hajar Dewantara pada masa penjajahan dan masa perjuangan
kemerdekaan. Dalam era kemerdekaan gagasan tersebut serta merta diterima
sebagai salah satu asas pendidikan nasional Indonesia (Jurnal Pendidikan,
No.2:24)
Trilogi Ki hajar Dewantara ini bermakna bahwa setiap orang berhak
mengatur dirinya sendiri dengan berpedoman kepada tata tertib kehidupan yang
umum.Dalam kegiatan pendidikan, peserta didik diberi kesempatan untuk mencari,
mempelajari, memecahkan masalah sendiri tanpa selalu harus dicampuri,
diperintah dan dipaksa. Dengan cara demikian, maka pendidikan akan terpusat
kepada peserta didik. Dapat dikatakan bahwa asas tutwuri handayani ini
merupakan cikal bakal dari pendekatan atau cara belajar siswa aktif.
Banyak para pendidik yang hanya sekadar membaca kemudian melupakan
semboyan pendidikan ini. Padalah istilah Tut Wuri Handayani menyiratkan prinsip
kepemimpinan.Hubungan konsep Tut wuri handayani dalam praktik pembelajaran
yaitu, mengarahkan peserta didik pada kemandirian yang kelak akan mampu
berkarya dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri, Dimana sosok guru atau
pengajar menjadi cerminan bagi peserta didiknya, bukan hanya itu saja dalam
dunia pendidikan ada hal lain yang harus dicukupi agar proses belajar seseorang
tercukupi yakni kebutuhan batin dan kebutuhan meteril.
Ketiga asas tersebut sebagai semboyang dalam dunia pendidikan
merupakan satu kesatuan asas yang telah menjadi asas penting di
Indonesia. Pendidikan juga mengandung makna mengembangkan kodrat alam anak
dengan tuntutan agar anak didik dapat mengembangkan kehidupan lahir dan bathin
menjadi subur dan selamat, dan perkembangan peserta didik harus senantiasa
diikuti dengan memberi apa yang dibutuhkan pada saat anak membutuhkan
bantuan.
Referensi:
SUMBER, AZAS DAN LANDASAN PENDIDIKAN
KONSEP TUT WURI HANDAYANI DALAM PEMBELAJARAN PRAKTIK DI SMKN 5 YOGYAKARTA