Selasa, 15 November 2022

MENELADANI MAKNA TUTWURI HANDAYANI (A_Besar)

Istilah tut wuri handayani merupakan gagasan yang mula-mula dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara seorang perintis kemerdekaan dan bapak pendidikan nasional. Asas Tut Wuri Handayani yang dikumandangkan oleh Ki Hajar tersebut mendapat tanggapan positif dari Drs. RMP Sosrokartono (filsuf dan ahli bahasa) dengan menambahkan dua semboyan untuk melengkapinya, yakni Ing Ngarso Sung Tulada dan Ing Madya Mangun Karsa. Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas.Adapun penggalan dari istilah tersebut yang kini menjadi semboyan pendidikan di Indonesia yakni:

    Ing Ngarso Sun Tuladha (jika di depan memberi contoh.) Secara normatif seorang pemimpin (pendidik) diharapkan mampu menjadi teladan yang baik (contoh yang baik) bagi anak buah atau anak didiknya. Hal ini sangat penting jika pemimpinnya melakukan kesalahan, jangan salahkan jika pengikutnya juga melakuakan hal yang sama. Misalnya, jika pejabat tinggi melakukan korupsi, hal ini akan ditiru oleh bawahan yang di daerah-daerah. Atau jika seorang pendidik membentak-bentak anak didiknya, dengan sendirinya akan membawa pengaruh mental si anak didik terganggu seperti ketakutan dan bahkan tidak mau masuk sekolah lagi.

    Ing Madya Mangun Kurso(di tengah membangkitkan kehendak) diterapkan dalam situasi ketika anak didik kurang bergairah atau ragu-ragu untuk mengambil keputusan atau tindakan, sehingga perlu diupayakan untuk memperkuat motivasi.,

    Tut Wuri Handayani(jika di belakang memberi dorongan) dalam dunia pendidikan, kepala sekolah dapat memediatori secara baik kepada staf, karyawan atau guru untuk memberi pelayanan secara maksimal kepada anak didiknya. Untuk pendidik sendiri, dapat memberikan kebebasan pada anak didiknya untuk melakukan kegiatan dalam praktik pembelajaran tentu sesuai dengan langkah-langkah kerja yang telah ditetapkan agar tujuan praktik pembelajaran dapat berjalana dengan baik dan mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan harapan. Pendidik hanya bertugas mengawasi dan mengarahkan peserta didik apabila ada anak didiknya yang berlaku diluar jalur yang telah ditetapkan.Tut Wuri Handayani mengandung arti pendidik dengan kewibawaan yang dimiliki mengikuti dari belakang dan memberi pengaruh, tidak menarik-narik dari depan, membiarkan anak mencari jalan sendiri, dan bila anak melakukan kesalahan baru pendidik membantunya. Gagasan tersebut dikembangkan Ki Hajar Dewantara pada masa penjajahan dan masa perjuangan kemerdekaan. Dalam era kemerdekaan gagasan tersebut serta merta diterima sebagai salah satu asas pendidikan nasional Indonesia (Jurnal Pendidikan, No.2:24)

    Trilogi Ki hajar Dewantara ini bermakna bahwa setiap orang berhak mengatur dirinya sendiri dengan berpedoman kepada tata tertib kehidupan yang umum.Dalam kegiatan pendidikan, peserta didik diberi kesempatan untuk mencari, mempelajari, memecahkan masalah sendiri tanpa selalu harus dicampuri, diperintah dan dipaksa. Dengan cara demikian, maka pendidikan akan terpusat kepada peserta didik. Dapat dikatakan bahwa asas tutwuri handayani ini merupakan cikal bakal dari pendekatan atau cara belajar siswa aktif.

    Banyak para pendidik  yang hanya sekadar membaca kemudian melupakan semboyan pendidikan ini. Padalah istilah Tut Wuri Handayani menyiratkan prinsip kepemimpinan.Hubungan konsep Tut wuri handayani dalam praktik pembelajaran yaitu, mengarahkan peserta didik pada kemandirian yang kelak akan mampu berkarya dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri, Dimana sosok  guru atau pengajar menjadi cerminan bagi peserta didiknya, bukan hanya itu saja dalam dunia pendidikan ada hal lain yang harus dicukupi agar proses belajar seseorang tercukupi yakni kebutuhan batin dan kebutuhan meteril.

    Ketiga asas tersebut sebagai semboyang dalam dunia pendidikan  merupakan satu kesatuan asas yang telah menjadi asas penting di Indonesia. Pendidikan juga mengandung makna mengembangkan kodrat alam anak dengan tuntutan agar anak didik dapat mengembangkan kehidupan lahir dan bathin menjadi subur dan selamat, dan perkembangan peserta didik harus senantiasa diikuti dengan memberi apa yang dibutuhkan  pada saat anak membutuhkan bantuan.

Referensi:

SUMBER, AZAS DAN LANDASAN PENDIDIKAN

KONSEP TUT WURI HANDAYANI DALAM PEMBELAJARAN PRAKTIK DI SMKN 5 YOGYAKARTA